Khazanah Cinta’s Weblog

Maret 11, 2008

Meminta-minta Vs. Sodaqoh

Diarsipkan di bawah: Bisnis, Entrepreneur — Tag:, , , — khazanahcinta @ 9:42 pm

Published by Fadil Fuad Basymeleh

Sering kita temui rekan atau teman kita yang hidupnya selalu dalam kefakiran, tidak pernah berubah keadaannya menjadi baik. Setelah cukup lama mengenal mereka, kita dapat menyadari bahwa ada diantara mereka yang tidak bersabar dan tidak dapat menjaga diri dari meminta-minta, sehingga Allah SWT membuka pintu kefakiran untuk mereka.

Sedangkan adapula rekan atau teman kita yang hidupnya semakin lama semakin makmur, rezeki mereka selalu bertambah, setelah diselidiki ternyata mereka merupakan orang-orang yang darmawan, mudah membantu kesulitan saudaranya, banyak bersodaqoh baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.

Kebenaran ini didukung oleh hadist Nabi SAW :

“Tiga hal yang aku bersumpah atas ketiganya;

1. Tidak berkurang harta karena shodaqoh,
2. Tidak teraniaya seorang hamba dengan aniaya yang ia shabar atasnya, melainkan Alalah Azza Wajalla menambahkan kemuliaan, dan
3. Tidak membuka seorang hamba pintu permintaan melainkan Allah membuka atasnya pintu kefakiran” (HR Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Allah SWT berfirman :

“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir. Pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) dan Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 261).

Serta hadist Nabi SAW :

“Seseorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar, lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya, maka itu lebih baik daripada seorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak.” (HR Bukhari dan Muslim).

Inti dari renungan singkat ini adalah, janganlah takut menjadi miskin dengan bersodaqoh, dan jangan pernah memulai meminta-minta, karena justru akan menjerumuskan Anda kepada kefakiran, maka bekerja, bersabar dan bersodaqohlah !

Allah SWT telah berjanji akan melipatgandakan ganjaran untuk mereka yang besodaqoh. Nah, siapa yang paling bisa dipercaya akan menempati janjinya ? apakah Anda masih meragukan-Nya ?

Wallahua’alam

Butuh Modal Usaha?

Diarsipkan di bawah: Entrepreneur — Tag:, , — khazanahcinta @ 9:21 pm
Dalam sebuah diskusi yang diadakan sebuah event organizer, muncul pertanyaan yang hampir selalu saya akrabi setiap kali bertemu dengan orang yang ingin membuka usaha. “Pak, saya tertarik untuk jadi pengusaha… Ide Bapak menarik…. Wah, saya pengen usaha ini nii…” Tapi, ujung-ujungnya, kemudian berbagai pertanyaan tadi dilanjutkan dengan sebuah pertanyaan klasik, “Cuma, saya belum punya modal, bagaimana ya?”Modal bagi sebagian orang memang dianggap sebagai hal yang paling memberatkan. Sebab, dalam pola pikir setiap orang, kata modal selalu diidentikkan dengan uang. Memang benar. Setiap usaha pasti menggunakan uang sebagai salah satu sarana untuk menjalankannya. Tapi, tak mutlak. Bahkan, bisa saja nol modal alias modal dengkul.Memangnya ada yang bisa benar-benar modal nol? Banyak. Salah satu contoh nyata pernah saya temui dari rekan saya. Tapi, tak perlu lah saya sebut namanya di sini. Dia menjalani fungsi sebagai makelar alias penghubung saja. Modal dia hanya tekad dan kelugasan berbicara untuk meyakinkan pengguna jasanya. Kalau melihat sebuah rumah yang dijual, dia biasanya langsung bergerak cepat menghubungi sang penjual rumah. Dia akan bertanya berapa harganya dan kalau berhasil menjualkan, berapa persen yang masuk sebagai komisi dia. Cara seperti ini berkali-kali berhasil membuatnya menjadi semacam property agent kelas kampung dengan penghasilan istimewa. Sebab, tanpa dirinya harus bergabung dengan berbagai macam property agent yang sudah pasti akan mengurangi komisinya, ia tetap bisa menjadi pemasar properti mumpuni. Dalam satu bulan, ia bisa menjualkan rumah orang paling tidak dua atau tiga rumah. Keuntungannya? Tak perlu saya sebut di sini. Yang jelas, dia bisa menyekolahkan ketiga anaknya di sekolah yang cukup elit, yang menurut catatan saya biayanya cukup mahal.

Saya pun pernah mengalami kasus yang hampir mirip. Modal saya waktu itu hanya meminjam printer teman untuk mencetak beberapa kartu nama saya dengan posisi keren, Managing Director. Terserah saya kan, wong yang bikin saya sendiri, jadi ya maunya saya dong kalau kasih nama dan jabatan sekeren itu. Padahal, selain jadi Managing Director, saya pun merangkap jadi sekretaris, akuntan, hingga office boy, alias semua saya kerjakan sendirian. Tapi, siapa juga sih yang menanyakan jabatan kita saat mendapat kartu nama. Banyak kok orang yang selalu saja langsung percaya pada sebuah status, tanpa pernah mengecek status orang itu sebenarnya.

Nah, dari kartu nama itu, saya mencantumkan salah satu jenis usaha yang saya geluti. Dalam beberapa kali kesempatan, ternyata ada beberapa kenalan baru yang kemudian menghubungi untuk presentasi jasa yang saya tawarkan. Dan, sampai saat ini, dari kartu nama yang cetaknya pun nebeng teman itu, saya bisa mendapat beberapa job besar. Job orderan ini bahkan cukup untuk menggaji beberapa rekan, yang kemudian saya jadikan partner kerja.

Menilik kedua contoh nyata di atas, masih ragukah Anda bahwa banyak usaha yang bermodal dengkul? Tapi oke, kalau masih ragu, baiklah. Kita kembali sejenak ke topik seminar yang saya hadiri saat itu. Ketika muncul sebuah pertanyaan tentang modal yang diajukan seorang ibu, maka kemudian saya coba bertanya kepada orang itu.

“Ibu punya tabungan seratus ribu?”

“Punya Pak,” jawab si Ibu.

“Oke. Apa ibu juga punya penggorengan, kompor, dan piring kecil di rumah?”

“Punya Pak. Malah saya kompor ada dua, karena kemarin dapat subsidi kompor gas dari pemerintah,” ungkap si Ibu.

“Bagus,” jawab saya. “Terus, apakah ibu bisa bikin gorengan?”

“Bisa dong. Pisang goreng saya malah dibilang beberapa orang enak banget. Ketela goreng saya juga pas banget di lidah, kata teman waktu saya masak di arisan rumah.”

“Nah. Menurut ibu uang seratus ribu bisa nggak buat bikin gorengan?”

“Bisa!”

“Ya sudah. Masalah modal usaha sudah terpecahkan. Jual saja gorengan.”

Ibu itu manggut-manggut mendengar penuturan saya. Ia tak sadar bahwa selama ini gorengannya yang dipuji oleh beberapa rekan bisa jadi sebuah usaha minim modal. Sampai tulisan ini dibuat, saya tidak tahu apakah si Ibu itu jadi menerjuni usaha gorengan. Satu hal yang pasti. Yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini adalah soal modal uang itu sebenarnya faktor kesekian. Dengan tekad, kemauan, kerja keras, keteguhan, keuletan, semua kesulitan untuk membuka usaha, pasti memiliki jalan keluar. Jadi, nggak punya modal? Siapa takuuuut?

Mengapa keyboard anda disusun secara “QWERTY”?

Diarsipkan di bawah: Electronic, Entrepreneur, Keluarga, Komputer — Tag:, , , — khazanahcinta @ 9:00 pm

Sebuah cerita klasik tentang keyboard komputer. Anak saya pernah tanya, ”Pap, keyboardnya komputer ini kok ngatur ’abc’-nya seperti ini ? Kok bisa susunannya ’qwerty’. Bukankah ’a’ seharusnya di sebelah sini bukan di sebelah sana. Mengapa ?”

Buat anak umur 14 tahun ini adalah pertanyaan yang cukup menarik. Dia tanya kenapa keyboard ditata seperti itu. Apa tidak seharusnya huruf ’a’ ditekan dengan jari telunjuk -jari yang paling kuat – supaya gampang ngetiknya. Tidak diletakkan di ujung kiri yang ditekan oleh jari yang jarang dipakai, kelingking. Kenapa hal demikian terjadi ?

Dulu pada saat komputer belum ada, orang mengetik menggunakan mesin tik. Mesin mekanikal yang butuh dorongan tenaga dari jari-jari kita. Kalau ditekan 2 huruf sama cepatnya sering nyantol. Kalau huruf-huruf ditata sedemikian gampang ditekan dengan jari telunjuk, apa yang akan terjadi ? Orang akan mengetik terlalu cepat menjadikan mesin tiknya cepat rusak. Sehingga untuk memperlambat supaya lebih lambat, sengaja dibuat sulit. Sengaja dibuat tidak enak supaya mengetiknya perlahan-lahan.

Dan menariknya setelah ditemukan komputer, keyboardnya tetap mengikuti pola mesin ketik. Meski nantinya ditemukan cara penyusunan huruf yang baru, sehingga bisa lebih enak lagi, bisa lebih cepat lagi, tapi tetap saja orang-orang akan memakai susunan ’qwerty’ ini. Karena apa ? Karena sudah menjadi kebiasaan orang. Karena semua orang sudah memakai sebelumnya. Semua orang sudah belajar tentang cara yang ini.

Maka sebuah hal yang baik belum tentu mesti dipakai oleh semua orang. Kalau anda masih ingat jaman video dulu, saat Betamax vs VHS. Betamax secara teknologi lebih kecil, lebih bagus, lebih canggih, tapi VHS lebih mendunia. Kenapa ? Karena VHS keluar lebih dulu dan lebih diterima orang-orang.

Softwafe pun juga sama. Kenapa semua orang pakai Microsoft Office ? Karena orang lain pakai ini semua. Ini menjadi sebuah kebiasaan. Maka kita harus sadar bahwa yang paling laku, paling sukses belum mesti sesuatu yang paling mempunyai hak atas kesuksesan itu.

Jadi “qwerty” keyboard bukan solusi terbaik, tidak mempunyai hak untuk mendapatkan “kesuksesan” seperti sekarang. Namun karena alasan lebih dulu terpakai orang, terbiasa sehingga orang malas mengubahnya. Dan ternyata semua orang memakai ini semua.

Dalam kehidupan kita, banyak hal yang tidak adil. Banyak hal yang tidak bijaksana. Banyak hal terjadi karena suatu hal menjadi berbeda dengan apa yang kita pikirkan. Orang yang rajin menjadi sukses ok. Tapi ada orang yang rajin tidak sukses-sukses. Sebaliknya ada yang malas menjadi sukses.

Anda harus tahu bahwa hidup ini memang tidak adil. Kita sendiri yang harus membentuk diri kita untuk meng-’adil’-kan diri kita sendiri sehingga kita mampu mensukseskan diri kita sendiri. Bahkan kadang-kadang menjadi pemenangnya. Yakni menciptakan sesuatu yang sebenarnya tidak layak sukses tiba-tiba menjadi sukses.

Ada faktor ’randomness’, ketidakpastian, sesuatu yang kebetulan terjadi dalam kehidupan kita. Karena hal ini terjadi karena adanya sesuatu hal yang lain, ’unpredictable reason’. Suatu alasan yang tidak dapat anda tebak dan kebetulan itu yang terjadi pada diri anda.

(adapted from Tanadi Santoso )

Setiap Muslim Itu KAYA dan BISA..!!!!

Diarsipkan di bawah: Bisnis, Entrepreneur, Keluarga, Sosial, Teknologi, Telekomunikasi — Tag:, , , , — khazanahcinta @ 2:39 am
Kenapa saya bilang setiap muslim itu kaya? Sebelumnya mari kita tengok kembali rukun Islam. Yang pertama Mengucap Dua kalimat syahadat,yang kedua Sholat, yang ketiga puasa, yang keempat zakat, yang kelima haji. Nah dari rukun Islam itu hanya satu yang tidak memerlukan Materi (uang) yaitu mengucap dua kalimat syahadat, dan yang lainnya membutuhkan uang. Sholat — kita perlu peralatan sholat– memerlukan biaya untuk membeli peralatanya. Zakat — mengeluarkan uang juga. Puasa juga memerlukan materi juga untuk mendapatkan makanan ketika buka puasa ataupun sahur. Dan rukun Islam yang terakhirpun juga sudah jelas-jelas membutuhkan uang.

Nah… sudah jelas bahwa setiap muslim itu kaya..!!!

Hanya saja banyak yang tidak mengakui dirinya kaya, banyak muslim yang tidak bersyukur (masih banyak juga lhoo… muslim yang bersyukur). Seharusnya kita lebih bersyukur karena kita sudah diberi kenikmatan oleh Allah kepada kita. Sehingga dengan rasa syukur kita bisa mengurangi pengangguran di negara kita. Bagaimana tidak?
Kalau kita bersyukur nih ya, dalam firman Allah, Allah berjanji akan menambah nikmatnya, berarti otomatis kita akan bertambah terus nikmatnya dong(RED-bagi yang bersyukur) ini akan menimbulkan efek tidak ada pengangguran, paling tidak mengurangi pengangguran di negara kita deh. Orang menganggur(tidak punya pekerjaan) itu karena merasa dirinya kekurangan rezeki, padahal Allah selalu memberikan rezeki kepada kita, hanya tinggal manusianya saja yang menyadarinya atau tidak. Kita bernafas itu merupakan salah satu rezeki yang diberikan Allah kepada kita sebagai hamba Nya. Kalau rezeki ini diartikan sebagai bentuk materiil (misalnya uang, harta, dll) itu juga termasuk rezeki yang selalu Allah berikan kepada kita, tinggal kitanya saja mau berusaha atau tidak. Ingat rumus AKSI=REAKSI, kalau kita mau berusaha sekuat tenaga, pantang putus asa, sabar dan sholat insya Allah kita akan mendapatkan apa yang kita cita-citakan, akan mendapatkan apa yang kita harapkan. Boro-boro mau berusaha sekuat tenaga, lha wong kita sendiri ketika sudah di cap orang lain tidak bisa kita langsung lemas,putus asa begitu saja. Sebenarnya kalau kita sadar bahwa kita kalau berusaha pasti akan bisa mendapatkan hasilnya (tentunya atas izin Allah). Kita renungkan kembali apa yang sudagh kita lakukan, sudah sebanding belum dengan rezeki yang telah Allah berikan. Paling tidak kita selalu berusaha untuk melakukan amalan-amalan yang baik, melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Kalau kita punya ilmu, diamalkan lah ke orang lain Insya Allah kita akan mendapatkan ilmu baru. Kalau kita punya harta, sisihkanlah sedikit untuk orang lain, insya Allah juga akan diganti oleh Allah dengan yang lebih besar lagi.wallahualam bishowab, Hanya Allah yang tahu coz Allah Maha Mengetahui. Mohon dikoreksi apabila ada kesalahan penulisan posting ini.

Afwan jidan.

Blog pada WordPress.com.